JAKARTA, 19 Oktober 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berkepanjangan membuat kabut asap kembali menjadi perhatian nasional dan regional. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan ekosistem. Kualitas udara memburuk, gangguan pernapasan meningkat, aktivitas sekolah di sejumlah wilayah terdampak terganggu, dan operasional penerbangan ikut terkena imbas.
Laporan Reuters pada 15 Oktober, yang mengutip data Kementerian Kesehatan, menyebutkan kasus penyakit pernapasan yang dikaitkan dengan kebakaran mencapai 283.270 kasus di tujuh provinsi per 13 Oktober 2026. Reuters juga melaporkan hampir 2.000 penerbangan di Indonesia terdampak pada periode 11 Agustus–12 Oktober. Angka-angka tersebut mengikuti batas waktu data yang dilaporkan sumber, bukan hitungan final untuk seluruh Oktober.
Mengapa kabut asap kembali menjadi persoalan besar?
Karhutla berulang terutama mengancam kawasan berhutan dan lahan gambut di Sumatra serta Kalimantan. Gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan sehingga pemadaman lebih sulit: api yang terlihat padam di atas tanah masih berpotensi menyala kembali ketika lapisan organik di bawahnya belum benar-benar basah.
Cuaca kering menambah tantangan. Dalam analisis dinamika atmosfer 13 Oktober, BMKG menyatakan indeks ENSO tiga bulanan untuk Agustus–September–Oktober berada pada +3,08, yang dikategorikan sebagai peristiwa El Niño dengan intensitas sangat kuat. BMKG juga menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah. Kondisi ini meningkatkan pentingnya pencegahan titik api, pengawasan lahan, serta kesiapan pemadaman.
Dampak bagi kesehatan dan transportasi
Partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang sensitif terhadap polusi. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan asma atau penyakit paru perlu memberi perhatian lebih pada informasi kualitas udara dan anjuran otoritas kesehatan. Keluhan seperti batuk, iritasi mata, atau sesak napas tidak boleh diabaikan, terutama jika gejalanya memburuk.
Ketika jarak pandang menurun, dampaknya turut menjalar ke perjalanan darat dan penerbangan. Penumpang sebaiknya memeriksa informasi terkini dari maskapai dan bandara sebelum berangkat karena keputusan operasional bergantung pada kondisi di lokasi dan dapat berubah dalam waktu singkat.
Upaya pemerintah dan tantangan data
Pada 18 Oktober, Katadata melaporkan BNPB sedang menguji teknologi dry ice untuk membantu menangani kabut asap karhutla di Sumatra Selatan. Teknologi tersebut masih perlu dievaluasi berdasarkan kondisi atmosfer dan hasil di lapangan. Upaya ini melengkapi—bukan menggantikan—pemadaman langsung, pencegahan kebakaran, penegakan hukum, serta perlindungan warga.
Data luas lahan terdampak juga perlu dibaca dengan cermat. Reuters menyebut data resmi yang tersedia belum diperbarui setelah Juli, ketika luas lahan terbakar dicatat sebesar 202.000 hektare. Pada saat yang sama, dua pemantau independen memperkirakan angka yang lebih besar untuk periode berbeda. Karena metode, cakupan wilayah, dan batas waktu pengamatan tidak sama, angka-angka itu tidak dapat diperlakukan sebagai satu total resmi yang setara.
Langkah yang bisa dilakukan masyarakat
Untuk masyarakat di wilayah terdampak, langkah yang disarankan meliputi memantau indeks kualitas udara dari sumber resmi, mengurangi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi, serta memakai respirator partikulat yang pas di wajah—misalnya N95 atau KN95—bila harus beraktivitas di luar. Jika memungkinkan, tutup pintu dan jendela ketika udara di luar memburuk dan gunakan penyaring udara di ruangan. Kelompok rentan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah perlindungan yang sesuai.
Upaya penanggulangan yang berkelanjutan membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah, kesiapan personel dan sarana pemadam, pengawasan pembukaan lahan, penindakan terhadap pembakaran ilegal, serta keterbukaan data titik api, luas terbakar, kualitas udara, dan dampak kesehatan. Hujan yang berkelanjutan dapat membantu menurunkan risiko, tetapi pencegahan sumber api dan pengendalian asap tetap menjadi kunci agar krisis tidak berulang.
Catatan data: seluruh angka dalam artikel mengikuti tanggal pelaporan sumber masing-masing dan perlu dibaca bersama batas waktu datanya. Ilustrasi dalam artikel merupakan gambar AI, bukan foto dokumentasi kejadian tertentu.
Sumber rujukan
Reuters — Why is the haze so bad in Southeast Asia this year? · BMKG — Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Oktober 2026 · Katadata — BNPB Uji Coba Teknologi Dry Ice untuk Tangani Asap Karhutla
